KesehatanOrmasPenyuluhan Masyarakat

Mimika Catat 118.314 Kasus Malaria, YACP Dorong Gerakan KAS BUNYI

24
×

Mimika Catat 118.314 Kasus Malaria, YACP Dorong Gerakan KAS BUNYI

Sebarkan artikel ini
Manager Program Yayasan Amungsa Cares Papua (YACP), Febian Kakisina, saat menyampaikan program KAS BUNYI sebagai gerakan edukasi dan kampanye bersama untuk mendorong percepatan penanganan malaria di Kabupaten Mimika, (Foto: Istimewa/ Sidiknews.id).

Timika, Sidiknews.id – Kabupaten Mimika mencatat angka kasus positif malaria tertinggi di antara delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah. Berdasarkan pembaruan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah per 22 September 2026, tercatat 118.314 kasus positif malaria di Mimika.

Mimika saat ini masuk dalam kategori endemik tinggi III, dengan angka Annual Parasite Incidence (API) mencapai 556,04 per 1.000 penduduk.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena malaria juga menyerang kelompok rentan. Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mencatat sebanyak 2.665 ibu hamil terkonfirmasi positif malaria.

Sementara itu, capaian pengobatan standar di Mimika berada pada angka 90,27 persen, masih di bawah target nasional yang ditetapkan sebesar 95 persen.

Manager Program Yayasan Amungsa Cares Papua (YACP), Febian Kakisina, mengatakan tingginya angka kasus malaria tidak boleh hanya menjadi catatan statistik, tetapi harus menjadi dasar untuk memperkuat aksi di tengah masyarakat.

“Angka 118.314 bukan sekadar statistik. Data harus terdengar sampai ke keluarga, sekolah, kampung, ruang pelayanan, media, dan ruang kebijakan,” ungkap Febian.

Menurutnya, penanganan malaria membutuhkan komunikasi publik yang konsisten, penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan sesuai standar hingga tuntas, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta pengendalian lingkungan yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, YACP meluncurkan Program KAS BUNYI, sebuah gerakan edukasi, kampanye publik dan advokasi yang bertujuan menghubungkan data kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

Program tersebut akan dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari edukasi di 10 sekolah, sosialisasi berbasis distrik, kampanye massa, produksi podcast hingga pembuatan film dokumenter.

“Program KAS BUNYI dirancang agar informasi malaria berubah menjadi tindakan: temukan kasus lebih cepat, obati sesuai standar sampai tuntas, lindungi kelompok rentan, dan kendalikan lingkungan bersama,” jelas Febian.

Ia mengatakan masyarakat perlu mengenali gejala malaria sejak dini dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada malaria.

“Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk mengenali gejala awal, segera memeriksakan diri, menjalani pengobatan hingga tuntas, dan menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Di sisi lain, indikator layanan malaria di Mimika menunjukkan sejumlah capaian teknis yang cukup tinggi. Konfirmasi laboratorium tercatat 99,81 persen, sedangkan kelengkapan laporan mencapai 93,75 persen.

Dalam penemuan kasus, tenaga kesehatan berkontribusi sebesar 84,86 persen, sementara kader komunitas menyumbang 15,14 persen.

YACP menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya eliminasi malaria tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Peran sekolah, kader, media, dunia usaha, pemerintah hingga masyarakat dinilai penting dalam mempercepat penanganan malaria.

YACP juga mendorong penguatan komunikasi risiko di ruang publik, peningkatan deteksi dini melalui kader, penutupan kesenjangan capaian pengobatan menuju target 95 persen, serta perlindungan lebih kuat bagi ibu hamil dan anak-anak.

“Keberhasilan eliminasi malaria di Mimika membutuhkan gerak bersama yang konsisten dari tingkat kabupaten hingga kampung. Melalui Program KAS BUNYI, YACP menyatakan kesiapannya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan demi mewujudkan Mimika yang bebas malaria,” pungkas Febian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *