PELNIPerhubunganTransportasi

PELNI Timika Soroti Kedalaman Alur dan Kondisi Dermaga Pomako

16
×

PELNI Timika Soroti Kedalaman Alur dan Kondisi Dermaga Pomako

Sebarkan artikel ini
Kondisi alur pelayaran dan dermaga Pelabuhan Pomako, Timika. PELNI menyoroti kedalaman alur yang dipengaruhi pasang surut serta kondisi fender rubber dermaga yang perlu mendapat perhatian demi keselamatan kapal. (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

Timika, Sidiknews.id – PT PELNI Cabang Timika menyoroti kondisi alur pelayaran dan fasilitas dermaga di Pelabuhan Pomako yang dinilai perlu mendapat perhatian untuk menunjang keselamatan kapal saat keluar maupun masuk pelabuhan.

Kepala Kantor Cabang PELNI Timika, Sigit Sujatmoko, mengatakan aktivitas pelayaran di Pomako sangat dipengaruhi kondisi pasang surut serta pergeseran arus dan lumpur di kawasan muara.

“Kalau kapal kami sudah di kedalaman 1,2 meter, itu sudah harus berhati-hati. Karena di muara pergeseran arus dan lumpurnya sangat kuat,” ujar Sigit.

Alur Pelayaran

Menurut Sigit, kedalaman sekitar 1,2 meter menjadi batas yang harus diperhatikan kapal saat melintas di kawasan muara. Kondisi dengan kedalaman di atas angka tersebut dinilai lebih aman bagi pelayaran.

Ia menjelaskan, kapal PELNI harus mengurangi kecepatan saat melewati muara untuk mengantisipasi pergeseran arus yang membawa sedimentasi lumpur.

“Makanya kapal PELNI kalau di muara itu pelan sekali. Itu untuk menghindari pergeseran arus yang membawa sedimentasi lumpur dan bisa mengakibatkan kapal kandas,” jelasnya.

Sigit menyebut, kondisi perairan di sisi timur pelabuhan juga relatif dangkal sehingga ruang manuver kapal menjadi terbatas.

Kapal Besar Berisiko

Kondisi tersebut membuat tidak semua jenis kapal dapat masuk dan melakukan manuver dengan leluasa di Pelabuhan Pomako.

Menurut Sigit, kapal dengan ukuran lebih kecil seperti KM Sangiang, KM Tatamailau dan kapal sejenis masih lebih memungkinkan untuk beroperasi di kondisi tersebut. Sementara kapal berukuran besar membutuhkan ruang putar yang lebih luas.

“Kalau kapal seperti KM Dobonsolo atau KM Labobar, panjang kapalnya membuat ruang untuk berputar sangat riskan,” katanya.

Ia mengatakan kondisi perairan dangkal di sekitar pelabuhan juga perlu diperhatikan karena sebelumnya beberapa kapal barang sempat mengalami kandas sementara.

Fender Dermaga Rusak

Selain alur pelayaran, Sigit menyoroti kondisi fender rubber atau bantalan karet di sisi dermaga yang berfungsi melindungi badan kapal saat bersandar.

Menurutnya, sebagian fender rubber di dermaga Pomako sudah hilang dan mengalami kerusakan.

“Fender rubber-nya, karet di pinggiran dermaga untuk sandar kapal supaya tidak berbenturan langsung dengan beton, itu sudah banyak yang hilang dan rusak,” ungkapnya.

Sigit menilai kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan kapal saat melakukan manuver sandar maupun ketika meninggalkan pelabuhan.

Ia mengatakan pihak PELNI telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak terkait dan akan terus berkoordinasi dengan instansi perhubungan untuk mendorong perbaikan fasilitas dermaga.

“Kalau tidak ada bantalan karetnya, badan kapal bisa berenturan dan bisa juga merusak dermaga. Itu yang kami mintakan untuk diperhatikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *