Timika, Sidiknews.id – Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Kabupaten Mimika, Ibrahim, mengingatkan orang tua agar mengawasi aktivitas anak-anak menjelang akhir tahun, terutama terkait potensi perang meriam yang kerap terjadi mulai Oktober.
Imbauan tersebut disampaikan Ibrahim saat menjawab pertanyaan masyarakat dalam sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol di Kelurahan Wanagon, SP2, Rabu (14/10/2026).
Ibrahim mengatakan, berdasarkan pengalaman penertiban tahun sebelumnya, aksi perang meriam melibatkan anak-anak dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak kecil hingga pelajar SMP dan SMA.
Ia mengungkapkan, dalam sejumlah kejadian yang ditanganinya, terdapat anak-anak yang diduga mengonsumsi minuman beralkohol sebelum terlibat dalam aksi tersebut. Selain meriam, mereka juga disebut membawa benda berbahaya, seperti ketapel, panah kawat, hingga bom molotov.
“Mohon Bapak dan Ibu, terutama para orang tua dan ketua RT, sampaikan kepada keluarga agar anak-anak diawasi. Jangan sampai mereka terlibat perang meriam, apalagi membawa minuman beralkohol dan alat berbahaya,” tegas Ibrahim.
Ia menjelaskan, penanganan terhadap anak-anak yang terjaring penertiban akan mempertimbangkan kondisi dan barang yang mereka bawa. Menurutnya, anak-anak yang tidak membawa minuman beralkohol maupun senjata berbahaya dapat dikembalikan kepada keluarga sesuai prosedur penanganan yang berlaku.
Namun, apabila ditemukan membawa minuman beralkohol atau benda tajam maupun alat berbahaya, kasus tersebut dapat diteruskan kepada kepolisian untuk penanganan lebih lanjut. Orang tua juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan sesuai kebutuhan penanganan.
Karena itu, Ibrahim meminta para ketua RT dan tokoh masyarakat ikut menyampaikan imbauan tersebut kepada warga di lingkungan masing-masing.
Ia berharap pengawasan bersama antara orang tua, masyarakat, Satpol PP, dan aparat keamanan dapat mencegah keterlibatan anak-anak dalam aksi yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Sekali lagi, kami minta bantuan orang tua dan Bapak-Ibu RT untuk mengingatkan serta mengawasi anak-anak,” tutupnya.








