BeritaDaerahEkonomi

Pertumbuhan Ekonomi Mimika Terendah di Indonesia, BPS: Produksi Tambang PTFI Menurun Pasca Longsoran

67
×

Pertumbuhan Ekonomi Mimika Terendah di Indonesia, BPS: Produksi Tambang PTFI Menurun Pasca Longsoran

Sebarkan artikel ini
Ketua Tim Neraca Lapangan Usaha BPS Mimika, Muhamad Reza Rahman, S.Tr.Stat, menjelaskan bahwa kontraksi ekonomi Mimika sebesar 11,33 persen pada Triwulan I 2026 dipicu oleh penurunan produksi sektor pertambangan yang mendominasi struktur ekonomi daerah. (Foto: Ani /Sidiknews.id)

Timika, Sidiknews.id – Kabupaten Mimika mencatat pertumbuhan ekonomi terendah di Indonesia pada Triwulan I Tahun 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan dalam agenda Kementerian Dalam Negeri, pertumbuhan ekonomi Mimika mengalami kontraksi sebesar -11,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y).

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Tim Neraca Lapangan Usaha BPS Mimika, Muhamad Reza Rahman, S.Tr.Stat, menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi Mimika terutama disebabkan oleh melemahnya sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (18/6/2026), Reza mengatakan kontraksi ekonomi yang terjadi pada Triwulan I 2026 merupakan dampak langsung dari penurunan produksi di sektor pertambangan, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas PT Freeport Indonesia (PTFI).

“Pertumbuhan ekonomi Mimika pada Triwulan I memang mengalami kontraksi sekitar 11 persen. Penyebab utama penurunan ini merupakan akibat dari menurunnya sektor tambang, terutama karena berkurangnya jumlah produksi PTFI,” ujar Reza.

Ia menjelaskan bahwa struktur ekonomi Kabupaten Mimika sangat bergantung pada sektor pertambangan. Bahkan, lebih dari 80 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Mimika berasal dari sektor tersebut.

“Penting untuk diketahui bahwa struktur ekonomi Kabupaten Mimika lebih dari 80 persen didominasi oleh sektor pertambangan. Sehingga ketika terjadi penurunan produksi atau output pada sektor pertambangan, maka akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.

Menurut Reza, hasil penelusuran data pertambangan yang dilakukan Tim Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis) BPS Mimika menunjukkan bahwa penurunan produksi tambang tersebut sejalan dengan laporan pendapatan triwulanan PTFI yang mengalami penurunan signifikan setelah insiden longsoran yang terjadi tahun lalu.

“Penelusuran data pertambangan yang dilakukan Tim Nerwilis BPS Mimika berhasil memotret penyebabnya, sebagaimana dikuatkan oleh laporan pendapatan triwulanan PTFI yang memang mengalami penurunan tajam pasca insiden longsoran tahun lalu,” tambahnya.

Data BPS menempatkan Mimika di posisi pertama dalam daftar 10 kabupaten/kota dengan pertumbuhan ekonomi terendah di Indonesia pada Triwulan I 2026. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan angka 49,57 persen.

Selain Mimika, daerah lain yang masuk dalam daftar pertumbuhan ekonomi terendah adalah Kabupaten Maluku Barat Daya (-5,74 persen), Kabupaten Luwu Timur (-2,31 persen), Kabupaten Kepulauan Seribu (-1,81 persen), dan Kabupaten Raja Ampat (-1,60 persen).

Meski demikian, secara nasional mayoritas kabupaten dan kota masih mencatat pertumbuhan ekonomi positif. Sebanyak 27 daerah tumbuh di atas 8 persen, 290 daerah tumbuh pada kisaran 5–8 persen, dan 152 daerah mencatat pertumbuhan antara 3–5 persen.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi Pemerintah Kabupaten Mimika untuk terus memperkuat sektor-sektor ekonomi nonpertambangan seperti pertanian, perikanan, perdagangan, UMKM, pariwisata, dan jasa guna mengurangi ketergantungan terhadap sektor tambang serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *