Timika, Sidiknews.id – Kepala Kantor Cabang PELNI Timika, Sigit Sujatmoko, memastikan tarif tiket kapal PELNI tidak dapat dinaikkan secara sembarangan karena memiliki mekanisme dan ketentuan yang harus dipenuhi.
Hal itu disampaikan Sigit saat ditemui di Cafe Untuk Berjumpa Lagi, Jalan SP2 Timika, Rabu (30/9/2026).
Tarif Tiket Bersifat Tetap
Sigit menjelaskan, berbeda dengan tiket pesawat maupun kereta api yang memiliki batas tarif atas dan bawah, tarif tiket PELNI bersifat tetap atau flat.
Menurutnya, pemerintah juga kerap memberikan stimulus berupa potongan harga pada periode tertentu untuk membantu masyarakat.
“Kalau tiket PELNI ini tidak ada ambang atas dan ambang bawah seperti tiket pesawat maupun kereta api. Tarifnya flat. Kadang-kadang saat tertentu ada program stimulus dari pemerintah,” ujar Sigit.
Ia mencontohkan, pemerintah sebelumnya memberikan stimulus berupa potongan harga pada periode Lebaran maupun libur sekolah.
Kenaikan Tarif Ada Mekanisme
Sigit mengatakan kenaikan tarif tiket PELNI juga tidak dilakukan setiap tahun.
Menurutnya, kenaikan tarif terakhir terjadi pada 2024 setelah sebelumnya tarif mengalami kenaikan pada 2012.
“Kalau PELNI sendiri, kenaikan tiket baru terjadi setelah 12 tahun, dari 2012 kemudian naik lagi pada 2024,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan tarif penumpang memerlukan persetujuan pemerintah dan DPR RI melalui Komisi V.
Selain tarif dasar, biaya pelabuhan juga menjadi salah satu komponen yang dapat memengaruhi tarif. Sigit menjelaskan, perubahan biaya jasa kepelabuhanan yang diterapkan pengelola pelabuhan dapat diperhitungkan dalam komponen biaya perjalanan.
Layanan Kapal Tetap Berjalan
Sigit menyebut layanan kapal PELNI yang melayani masyarakat tetap berjalan, termasuk kapal dengan skema Public Service Obligation (PSO).
Ia menyebut beberapa kapal yang melayani rute tersebut, di antaranya KM Leuser dan KM Sirimau.
Selain itu, terdapat pula kapal perintis atau kapal bersubsidi seperti Sabuk Nusantara 75 yang dikelola PELNI.
Prediksi Penumpang Nataru
Menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru), PELNI Timika mulai melakukan mitigasi terhadap potensi lonjakan penumpang.
Sigit mengatakan evaluasi terhadap kepadatan penumpang pada 12 Desember 2025 menjadi salah satu bahan untuk memperkirakan kondisi pada periode Nataru mendatang.
Berdasarkan evaluasi tersebut, jumlah penumpang yang keluar melalui Pelabuhan Pomako pada periode puncak Nataru diperkirakan dapat mencapai sekitar 3.000 orang.
“Kalau kita pelajari dan mitigasi dari kejadian 12 Desember 2025, kemungkinan penumpang peak season Nataru itu sekitar 3.000 yang keluar dari Pelabuhan Pomako,” pungkasnya.








