DaerahPerikananPertanian

BRIN Ungkap Potensi Komoditas Unggulan Mimika, Infrastruktur dan Akses Pasar Jadi Tantangan

41
×

BRIN Ungkap Potensi Komoditas Unggulan Mimika, Infrastruktur dan Akses Pasar Jadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
Periset Madya BRIN, Solichah Vichy Budiwati, saat memaparkan kajian potensi komoditas unggulan Kabupaten Mimika di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan pangan. Pengembangan potensi daerah tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, teknologi, akses pembiayaan, serta jaringan pemasaran. (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id)

Timika, Sidiknews.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti besarnya potensi komoditas unggulan di Kabupaten Mimika yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat di luar sektor pertambangan. Namun, keterbatasan infrastruktur, teknologi produksi, akses pembiayaan, dan jaringan pemasaran masih menjadi tantangan dalam mengoptimalkan potensi tersebut.

Hal itu dipaparkan Periset Madya BRIN, Solichah Vichy Budiwati, saat menyampaikan materi kajian komoditas unggulan daerah di lantai 3 Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika, Kamis (15/10/2026).

Kajian tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi komoditas unggulan, menentukan prioritas pengembangan berdasarkan karakteristik wilayah, serta menyusun strategi kebijakan yang dapat menjadi dasar pengembangan ekonomi daerah.

Dalam pemaparannya, Solichah menjelaskan bahwa Mimika memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari kawasan hutan tropis, perairan, pertanian, perkebunan hingga sumber daya mineral.

Berdasarkan data yang disajikan, kawasan hutan di Mimika tercatat seluas 1.664.502,69 hektare atau sekitar 90,94 persen. Sementara itu, luas lahan pertanian yang tercatat dalam kategori bukan sawah atau ladang mencapai 12.820 hektare dan perkebunan sekitar 1.633 hektare. Wilayah perairan Mimika tercatat seluas 506.905 hektare.

Potensi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendorong pengembangan komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara terarah dan berkelanjutan.

Ketergantungan terhadap Pertambangan Masih Tinggi

Dalam kajian tersebut, sektor pertambangan masih mendominasi struktur perekonomian Kabupaten Mimika.

Data yang dipaparkan menunjukkan, kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Mimika pada 2025 mencapai 88,86 persen, dengan nilai PDRB yang tercatat sebesar Rp95,12 triliun.

Sementara itu, perkembangan ekonomi Mimika pada triwulan I 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar 11,33 persen. Kajian juga menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih memiliki kontribusi relatif kecil terhadap perekonomian daerah.

Berdasarkan analisis Location Quotient (LQ), sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memperoleh nilai 0,358. Nilai tersebut menunjukkan sektor ini belum menjadi sektor basis dalam struktur ekonomi yang dianalisis.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sektor non-tambang melalui pengembangan komoditas yang sesuai dengan potensi sumber daya dan kebutuhan pasar.

Tiga Distrik Dipetakan sebagai Wilayah Pengembangan

Kajian BRIN mengidentifikasi sejumlah komoditas potensial di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga.

Di Distrik Mimika Timur, komoditas yang menjadi perhatian antara lain cabai rawit, jagung, sagu, udang dan bawal hitam. Cabai rawit tercatat memiliki produksi 253,5 ton pada 2024, sedangkan produksi jagung mencapai 484 ton pada tahun yang sama.

Sagu juga menjadi salah satu potensi penting dengan luas hutan sagu yang dipaparkan mencapai 30.000 hektare. Pada sektor perikanan, kajian mencatat potensi produksi udang serta peluang pengembangan produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah.

Di Distrik Mimika Barat, komoditas potensial meliputi cabai rawit, ubi kayu, kelapa, udang dan kepiting bakau. Data kajian mencatat produksi ubi kayu mencapai 45 ton dari luas lahan lima hektare pada 2024. Sementara produksi kelapa tercatat 592 ton dari luas lahan 2.500 hektare pada tahun yang sama.

Adapun di Distrik Agimuga, komoditas yang dinilai berpotensi dikembangkan meliputi pisang, ubi jalar dan kopi. Produksi pisang tercatat mencapai 60 ton, sedangkan ubi jalar mencapai 136 ton pada 2024. Untuk kopi, kajian mencatat luas kebun sekitar tiga hektare.

Pemetaan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya alam, kondisi wilayah, nilai ekonomi, infrastruktur, tenaga kerja, lingkungan, kebijakan, serta peluang pengolahan dan pemasaran.

Rantai Distribusi Memengaruhi Pendapatan Petani

Selain mengidentifikasi komoditas potensial, kajian BRIN menyoroti persoalan rantai distribusi yang memengaruhi pendapatan petani.

Keterbatasan sarana produksi, biaya transportasi yang tinggi, akses jalan yang sulit, minimnya fasilitas penyimpanan, serta ketergantungan terhadap pengepul menjadi sejumlah kendala yang ditemukan dalam rantai nilai sektor pertanian.

Berdasarkan contoh survei cabai rawit di Mimika Timur, petani menjual hasil produksi kepada pengepul dengan harga Rp65.000 per kilogram. Komoditas tersebut kemudian dijual kepada pedagang kecil atau pasar lokal dengan harga Rp100.000 per kilogram, sebelum sampai kepada konsumen dengan harga Rp120.000 per kilogram.

Gambaran tersebut menunjukkan adanya selisih harga pada setiap tahapan distribusi. Karena itu, perbaikan akses pemasaran, transparansi informasi harga, penguatan kelembagaan petani, dan efisiensi biaya distribusi menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal.

Kajian tersebut juga menekankan perlunya pendampingan teknis, peningkatan kualitas pascapanen, serta penyediaan sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau.

Nelayan Membutuhkan Fasilitas Penyimpanan dan Akses Pasar

Persoalan serupa ditemukan pada sektor perikanan tangkap. Nelayan masih menghadapi keterbatasan modal, tingginya biaya bahan bakar minyak (BBM), peralatan penangkapan yang sederhana, serta minimnya fasilitas penyimpanan dingin.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko penurunan kualitas hasil tangkapan dan membatasi jangkauan pemasaran.

Dalam contoh rantai distribusi bawal hitam di Mimika Timur, nelayan menjual hasil tangkapan kepada pengepul dengan harga Rp25.000 per kilogram. Selanjutnya, pengepul atau eksportir menjualnya dengan harga Rp45.000 per kilogram, sedangkan harga di tingkat pedagang kecil mencapai Rp60.000 per kilogram.

Untuk komoditas udang di Mimika Barat, kajian juga memetakan perbedaan harga udang banana dan udang tiger pada tingkat nelayan, pengepul atau eksportir, hingga pedagang kecil.

Temuan tersebut menjadi dasar untuk mendorong peningkatan fasilitas penyimpanan, transportasi hasil tangkapan, akses pembiayaan, serta kemitraan pemasaran agar nelayan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik.

Hilirisasi Buka Peluang Nilai Tambah

BRIN turut mengidentifikasi peluang hilirisasi komoditas unggulan agar hasil pertanian dan perikanan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

Cabai rawit berpotensi diolah menjadi cabai kering, bubuk cabai dan saus sambal. Sagu dapat dikembangkan menjadi tepung, mi sagu dan berbagai produk pangan. Kelapa berpeluang diolah menjadi kopra, minyak kelapa, santan, serta produk turunannya.

Sementara itu, pisang dan ubi jalar dapat dikembangkan menjadi keripik, tepung dan makanan olahan. Kopi Agimuga berpeluang ditingkatkan kualitasnya melalui pengolahan, pemanggangan, pengemasan, serta penguatan identitas produk lokal.

Di sektor perikanan, peluang pengembangan mencakup produk beku, pengolahan udang dan kepiting, serta peningkatan standar mutu untuk memperluas akses pasar regional dan ekspor.

Upaya hilirisasi tersebut membutuhkan dukungan teknologi, pendampingan usaha, standar kualitas, promosi, dan investasi pada fasilitas pengolahan.

BRIN Rekomendasikan Penguatan Infrastruktur dan Kelembagaan

Melalui analisis SWOT, kajian tersebut mengidentifikasi potensi sumber daya alam, keragaman komoditas lokal, kearifan masyarakat, perguruan tinggi, serta keberadaan Pelabuhan Pomako sebagai kekuatan yang dapat mendukung pengembangan ekonomi daerah.

Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur dasar, penyuluh lapangan, teknologi, akses pembiayaan dan kelembagaan usaha menjadi kelemahan yang perlu dibenahi.

BRIN merekomendasikan pengembangan infrastruktur distribusi, penyediaan kapal pengangkut hasil panen dan tangkapan, pembangunan fasilitas penyimpanan dingin, serta penguatan koperasi tani dan nelayan.

Kemitraan dengan hotel, restoran, katering, distributor, ritel modern, program pengadaan pangan pemerintah, dan pasar ekspor juga dinilai dapat membuka peluang penyerapan produk lokal.

Selain itu, pemanfaatan platform digital untuk memperluas akses pasar dan informasi harga, pengembangan rumah inovasi, serta pendampingan teknologi produksi dan pascapanen menjadi bagian dari strategi yang diusulkan.

Pengembangan tersebut direncanakan secara bertahap, mulai dari pembentukan kelompok tani dan nelayan, penguatan akses pembiayaan dan pemasaran, hingga pembangunan sentra produksi serta industri pengolahan berbasis komoditas unggulan.

Melalui kajian ini, pengembangan potensi pertanian, perkebunan dan perikanan diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi Mimika, meningkatkan daya saing produk lokal, serta memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat di berbagai distrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *