KesehatanPemberdayaan MasyarakatPemerintahan Daerah

Dinkes Mimika Catat 63.856 Kasus ISPA hingga Minggu ke-35 2026

18
×

Dinkes Mimika Catat 63.856 Kasus ISPA hingga Minggu ke-35 2026

Sebarkan artikel ini
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Mimika. Dinas Kesehatan Mimika mencatat 63.856 kasus ISPA hingga minggu ke-35 tahun 2026, sehingga masyarakat diimbau menjaga kebersihan dan kesehatan untuk mencegah penularan (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

Timika, Sidiknews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mencatat sebanyak 63.856 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berdasarkan data surveilans hingga minggu ke-35 tahun 2026.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kabupaten Mimika, Kamaluddin, mengatakan data tersebut merupakan akumulasi kasus ISPA yang tercatat dari berbagai fasilitas kesehatan di Kabupaten Mimika.

“Di surveilans kami, minggu pertama sampai minggu ke-35 tahun 2026 ada 63.856 kasus ISPA yang datang dari seluruh fasilitas di Mimika,” ujar Kamaluddin saat ditemui awak media di Kantor Dinkes Mimika, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, ISPA masih termasuk dalam kelompok penyakit yang banyak ditemukan di fasilitas kesehatan Mimika. Dari pemantauan penyakit di puskesmas, ISPA masuk dalam daftar penyakit dengan jumlah kasus tinggi, selain malaria.

Kamaluddin mengatakan, kasus ISPA memang masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun. Namun, untuk memastikan apakah terjadi peningkatan signifikan akibat kondisi cuaca dan asap saat ini, pihaknya masih membutuhkan data pembanding.

“Kalau meningkat sekali sih, tidak. Karena kabut asapnya juga tidak searah. Tapi saya belum ada pembandingnya,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi kemarau yang disertai debu dan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.

Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker saat berada di lingkungan berdebu atau berasap, serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara kurang baik.

“Kalau lagi kemarau begini banyak debu, kemudian sekarang ada asap, masker juga digunakan untuk proteksi. Kalau ada keluhan, bisa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan,” ujarnya.

Kamaluddin menambahkan, masyarakat yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati karena paparan asap dapat memperberat keluhan hingga menyebabkan sesak napas.

“Kalau dengan asap begini biasanya keluhannya akan lebih berat, sampai bisa sesak. Itu yang harus dihindari. Kalau tidak terlalu penting untuk keluar rumah, mungkin lebih baik di rumah selama banyak asap,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *