KesehatanPemerintahan DaerahPenyuluhan Masyarakat

Dinkes Mimika Catat Dua Kasus Kronis Kaki Gajah hingga Juni 2026

27
×

Dinkes Mimika Catat Dua Kasus Kronis Kaki Gajah hingga Juni 2026

Sebarkan artikel ini
Penyakit kaki gajah di Kabupaten Mimika. Dinas Kesehatan Mimika mencatat dua kasus kronis kaki gajah hingga Juni 2026 dan mengimbau masyarakat meningkatkan pencegahan terhadap gigitan nyamuk serta menjaga kebersihan lingkungan (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

Timika, Sidiknews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mencatat dua kasus kronis filariasis atau penyakit kaki gajah sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kabupaten Mimika, Kamaluddin, mengatakan dua kasus tersebut ditemukan di kawasan Pasar Sentral dan Limau Asri.

“Januari sampai dengan Juni ini ada satu kasus di Pasar Sentral dan satu kasus di Limau Asri, kasus kronis,” ujar Kamaluddin saat ditemui awak media di Kantor Dinkes Mimika, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kedua pasien telah mendapatkan penanganan melalui fasilitas kesehatan. Karena sudah masuk kategori kronis dengan pembesaran anggota tubuh, penanganan lebih difokuskan pada perawatan untuk mencegah terjadinya infeksi.

“Kalau kasus kronis itu kan kakinya sudah membesar. Itu ditangani sama puskesmas, bagaimana perawatan kakinya supaya tidak infeksi,” jelasnya.

Kamaluddin menjelaskan, Mimika saat ini tidak lagi menjalankan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) secara rutin seperti pada tahap sebelumnya. Pemberian obat dilakukan apabila ditemukan kasus positif sesuai hasil pemantauan.

Dinkes Mimika kini memasuki tahap surveilans untuk memastikan tidak terjadi kembali penularan filariasis secara lokal.

Ia mengatakan, Mimika telah melewati sejumlah tahapan penilaian eliminasi filariasis. Pada 2024, Mimika dinyatakan lulus penilaian transmisi penularan lokal. Kemudian pada 2025 dilakukan Transmission Assessment Survey (TAS) di 33 lokasi dan hasilnya juga dinyatakan lulus.

“Sekarang kita surveilans untuk memantau apakah ada kasus-kasus,” katanya.

Selanjutnya, pada 2027 Dinkes Mimika akan mengikuti penilaian tahap kedua untuk melihat apakah masih terdapat transmisi lokal filariasis. Penilaian tersebut akan dilakukan di 33 lokasi.

Jika kembali dinyatakan lulus, pemantauan akan dilanjutkan menuju tahap berikutnya pada 2029. Apabila seluruh tahapan berhasil dilewati, Mimika berpeluang memperoleh sertifikat eliminasi filariasis.

Kamaluddin menegaskan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kasus baru. Sementara dua kasus yang ditemukan pada 2026 merupakan kasus kronis.

Ia menjelaskan, filariasis kronis umumnya baru terlihat ketika terjadi pembesaran pada bagian tubuh penderita. Pada kondisi tersebut, penanganan lebih diarahkan pada perawatan untuk mengurangi risiko komplikasi dan infeksi.

“Kalau sudah kronis, perawatannya saja. Supaya tidak terjadi infeksi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *