DaerahKlimatologiLingkungan Hidup

Antisipasi Sumur Kering Meluas, Mimika Baru Minta RT-RW Data Warga Terdampak 2×24 Jam

33
×

Antisipasi Sumur Kering Meluas, Mimika Baru Minta RT-RW Data Warga Terdampak 2×24 Jam

Sebarkan artikel ini
Warga bersama perangkat RT/RW melakukan pendataan kondisi sumur dan ketersediaan air bersih sebagai langkah antisipasi dampak kemarau dan El Niño di wilayah Distrik Mimika Baru. Pendataan warga terdampak ditargetkan rampung dalam waktu 2×24 jam (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

TIMIKA, Sidiknews.id – Mengantisipasi dampak musim kemarau dan fenomena El Niño yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, Distrik Mimika Baru mempercepat pendataan kondisi sumber air di wilayahnya.

Langkah tersebut dilakukan menyusul mulai munculnya keluhan masyarakat terkait debit air sumur yang menurun. Bahkan, sejumlah sumur warga dilaporkan telah mengering dan tidak lagi dapat digunakan.

Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, pada Kamis (27/8/2026), menginstruksikan seluruh lurah, kepala kampung, serta Ketua RT/RW untuk segera melakukan pendataan dan pemantauan kondisi air di wilayah masing-masing.

Merlyn menegaskan, langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini dan tidak perlu menunggu kondisi berkembang menjadi krisis.

“Kita harus mengetahui lebih awal: di mana air mulai habis, berapa warga terdampak, dan di mana sumber air yang masih tersedia,” tegasnya.

Menurut Merlyn, keluhan mengenai sumur yang mulai mengering juga ramai disampaikan masyarakat melalui media sosial. Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian bersama.

“Kita tidak perlu menunggu keadaan menjadi krisis untuk mulai bergerak. Bergerak bersama,” ujarnya.

Dalam pendataan tersebut, setiap RT diminta menghimpun informasi mengenai jumlah kepala keluarga (KK) yang sumurnya telah kering atau tidak dapat digunakan, termasuk warga yang mengalami penurunan debit air secara signifikan.

Perangkat RT juga diminta mencatat kedalaman sumur warga terdampak apabila diketahui, lokasi atau alamat titik terdampak, serta keberadaan sumur dalam yang masih memiliki debit air cukup.

Selain itu, pendataan mencakup ketersediaan tandon, tangki air maupun sumber air alternatif yang masih dapat dimanfaatkan apabila terjadi kondisi darurat.

Pemerintah juga meminta adanya perkiraan jumlah KK atau jiwa yang berpotensi membutuhkan bantuan distribusi air bersih.

Seluruh data dari tingkat RT selanjutnya akan dikompilasi oleh lurah dan kepala kampung sebelum disampaikan kepada Distrik Mimika Baru dengan batas waktu 2×24 jam.

Distrik menegaskan, data yang belum lengkap tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pelaporan. Wilayah yang sudah mengalami dampak diminta segera melaporkan kondisi tersebut agar dapat ditindaklanjuti.

Hasil pendataan nantinya menjadi dasar bagi Distrik Mimika Baru untuk memetakan wilayah yang rawan mengalami kekurangan air bersih sekaligus menentukan langkah penanganan.

Data tersebut juga akan menjadi bahan koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk kemungkinan pendistribusian air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan.

Warga Diminta Hemat Air

Selain mempercepat pendataan, Merlyn mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mulai menghemat penggunaan air dari rumah masing-masing.

Air yang masih tersedia diharapkan digunakan secara bijak dan diprioritaskan untuk kebutuhan penting.

Warga yang memiliki tandon atau wadah penampungan juga diminta menyimpan cadangan air. Masyarakat juga dapat menampung air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi ketika hujan turun.

Merlyn mengingatkan warga untuk memeriksa kondisi sumur secara berkala agar perubahan debit air dapat diketahui lebih awal.

“Kalau ada tetangga yang mengalami kesulitan air, mari saling membantu. Jangan sampai ada warga yang kesulitan sementara di lingkungan sekitarnya masih tersedia sumber air,” katanya.

Ia berharap pemerintah distrik, kelurahan, kampung, RT/RW dan masyarakat dapat bergerak bersama menghadapi potensi berkurangnya ketersediaan air bersih.

Menurutnya, pendataan dan penghematan air sejak dini penting agar pemerintah memiliki gambaran riil mengenai kondisi di lapangan dan dapat mengambil tindakan sebelum kekurangan air meluas serta berdampak lebih besar terhadap masyarakat.

“Kita tidak perlu menunggu keadaan menjadi krisis untuk mulai bergerak. Bergerak bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *