DaerahKlimatologiLingkungan Hidup

Dampak Kemarau Mulai Terasa, Amar Krisis Air hingga Harus ke Kokonao

30
×

Dampak Kemarau Mulai Terasa, Amar Krisis Air hingga Harus ke Kokonao

Sebarkan artikel ini
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah dampak kemarau yang mulai menyebabkan krisis air bersih di wilayah Amar, Mimika. Warga terpaksa mengambil air dari Kokonao (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

TIMIKA, Sidiknews.id – Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Warga di Distrik Amar kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih hingga harus mengambil pasokan air dari Kokonao, Distrik Mimika Barat.

Kondisi serupa juga dialami personel TNI dan Polri yang bertugas di wilayah Amar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa mencari air hingga ke Kokonao.

Kapolsek Mimika Barat, Iptu Iqda Muhammad Yani, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tanda nyata bahwa dampak kekeringan mulai terjadi di wilayah pesisir Mimika.

“Rekan-rekan saya yang ada di Amar, termasuk anggota saya dan anggota Koramil, mengambil air di Kokonao untuk air mandi. Artinya, sudah ada dampaknya,” kata Iqda kepada wartawan di Timika, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, kesulitan mendapatkan air mulai terlihat setelah rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus lalu.

Iqda mengimbau masyarakat mulai memperhatikan sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan. Mata air yang tersedia, kata dia, perlu dijaga agar tetap bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau.

“Saya sampaikan kepada masyarakat agar mencari mata air yang bisa digunakan untuk kebutuhan hidup masyarakat,” ujarnya.

Debit Kali di Kapiraya Mulai Menyusut

Dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat di Kapiraya. Iqda mengaku telah mengarahkan personelnya untuk mengecek kondisi sejumlah mata air di wilayah tersebut.

“Memang sudah beberapa minggu ini dampaknya sudah ada di wilayah pesisir. Saya arahkan anggota yang ada di Kapiraya untuk melihat apakah mata air itu masih ada atau tidak,” katanya.

Selain mata air, debit sejumlah kali di Kapiraya juga mulai menyusut. Perubahan turut terlihat pada suhu air dan kondisi kolam-kolam ikan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

“Air kali juga sudah menipis di Kapiraya. Suhu airnya berbeda dibanding sebelumnya. Ada dampak kemaraunya,” ujar Iqda.

Menurutnya, kondisi tersebut mulai berdampak pada kolam ikan milik warga yang debit airnya ikut mengalami penurunan.

Meski kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pesisir, Iqda menyebut kondisi di Amar menjadi yang paling terasa. Aparat yang harus mengambil air hingga ke Kokonao menjadi gambaran nyata terbatasnya sumber air di wilayah tersebut.

“Yang lebih utama adalah Amar. Anggota saya sampai harus datang mengambil air. Itu bukti nyata bahwa dampak kemarau sudah berjalan di wilayah pesisir,” katanya.

Warga Masih Andalkan Tampungan Air Hujan

Sementara itu, sebagian masyarakat di Kokonao masih mengandalkan air hujan yang sebelumnya ditampung di bak maupun kolam.

Persediaan air tersebut kini tidak hanya digunakan oleh pemiliknya. Sejumlah warga yang membutuhkan air juga mulai mendatangi tempat-tempat penampungan untuk meminta air.

“Untuk orang-orang tertentu ada yang datang meminta air dari kolam kami. Kolam itu menampung air hujan,” kata Iqda.

Ia meminta masyarakat menggunakan persediaan air secara hemat. Warga yang masih memiliki cadangan air juga diharapkan dapat berbagi dengan masyarakat lain apabila persediaannya memungkinkan.

Menurunnya debit kali, berkurangnya air pada kolam warga, hingga kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari menunjukkan dampak musim kemarau mulai meluas di wilayah pesisir Mimika.

Kondisi di Amar menjadi salah satu yang paling mencolok. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga maupun aparat kini harus mencarinya hingga ke Kokonao.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *