TIMIKA, Sidiknews.id – Bupati Mimika Johannes Rettob mengutuk keras aksi pembunuhan yang kembali terjadi di Kabupaten Mimika. Ia menilai kejadian tersebut telah mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Hal itu disampaikan Rettob saat diwawancarai awak media di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (31/8/2026), usai apel pagi.
Rettob mengatakan, pemerintah daerah telah berkali-kali mengingatkan agar pihak-pihak yang terlibat konflik tidak melakukan tindakan kekerasan. Namun, kejadian pembunuhan kembali terulang.
“Pemerintah mengutuk keras tindakan-tindakan yang tidak benar. Ini sudah berkali-kali terjadi dan sekarang terulang lagi,” ujar Rettob.
Menurut Rettob, pihak keamanan telah mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Ia menyebut kejadian itu sebagai tindakan yang brutal.
“Ini pembunuhan yang brutal. Identitasnya sudah diketahui oleh polisi dan kita sudah tahu,” katanya.
Rettob menegaskan, persoalan tersebut akan segera dibahas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Mimika. Pemerintah bersama aparat keamanan akan menentukan langkah yang perlu diambil untuk menjaga situasi tetap kondusif.
“Kita akan bertemu dengan Forkopimda hari ini dan menentukan sikap apa yang harus kita lakukan. Karena ini mengganggu keamanan kita di Mimika, sangat mengganggu,” tegasnya.
Ia menjelaskan, konflik yang sebelumnya terjadi di wilayah Kwamki Narama kini dinilai telah keluar dari wilayah konflik. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi mengganggu keamanan masyarakat secara lebih luas.
Rettob juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh dari pihak yang berkonflik serta aparat keamanan untuk mencari langkah penyelesaian.
“Kita akan bertemu dengan semua pihak dan aparat keamanan, karena persoalan ini sudah dideteksi,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, Rettob mengimbau masyarakat Mimika agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
Ia meminta masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak untuk tetap berada di rumah, khususnya pada malam hari, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau tidak punya kebutuhan apa-apa, masyarakat tetap tinggal di dalam rumah. Jangan sampai kita keluar malam,” pungkasnya.










