TIMIKA, Sidiknews.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika mencatat ketimpangan antara realisasi keuangan dan progres fisik proyek infrastruktur. Hingga awal November 2026, serapan anggaran keuangan baru menyentuh angka 52 persen, sementara capaian pekerjaan fisik di lapangan telah menembus 69 persen.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Innosensius Yoga Pribadi, mengungkapkan bahwa berbagai proyek pembangunan masih berjalan masif dan tersebar di sejumlah distrik. Pihaknya menargetkan progres fisik segera menyentuh angka 70 persen seiring berjalannya masa kontrak yang rata-rata berakhir pada Desember 2026 mendatang.
“Kalau perkembangan keuangan PUPR sekarang sudah mencapai 52 persen. Sementara untuk fisik sudah 69 persen dan masih berjalan. Kita sedang berupaya mencapai 70 persen,” jelas Yoga saat ditemui awak media di Hotel Horison Ultima, Kamis (5/11/2026).
Perencanaan FS dan DED Rampung November
Di samping pengejaran target fisik, lanjut Yoga, sejumlah tahapan perencanaan juga tengah memasuki proses finalisasi dan ditargetkan rampung pada akhir November. Dokumen krusial seperti Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan ruas jalan Agimuga–Timika serta Potowayburu–Timika telah melewati tahap seminar antara.
Fokus percepatan pembangunan infrastruktur saat ini menyebar pada sejumlah titik vital. Mulai dari pembangunan jembatan di wilayah Hoya, Jita, dan Miyoko, hingga perbaikan jalan dalam kota. Khusus untuk Jalan Hasanuddin, Yoga memastikan pekerjaan tinggal menunggu proses pengaspalan akhir.
“Jalan Hasanuddin sekarang sedang diperbaiki. Tinggal menunggu waktu untuk diaspal agar bisa diselesaikan,” ungkapnya.
Pekerjaan beton untuk jalan lingkungan di kawasan Distrik Wania dan Mimika Baru juga masih berjalan. Namun, di tengah upaya mengejar target, pelaksanaan proyek tersebut terhambat oleh ketersediaan stok semen Tonasa yang biasa digunakan dalam campuran konstruksi.
Menanggapi kondisi ini, sejumlah penyedia jasa mulai berkonsultasi dengan instansi teknis terkait opsi penggunaan material alternatif. Meski begitu, Yoga menegaskan bahwa penggantian material tidak dapat dilakukan secara serta-merta tanpa dasar kajian yang kuat. Diperlukan analisis teknis dari konsultan pengawas, termasuk penyesuaian komposisi campuran beton hingga uji kelayakan guna menjamin mutu bangunan.
“Kalau memang stoknya masih tersedia dan tidak terlalu jauh, tetap harus menggunakan material sesuai perencanaan awal. Tetapi kalau ketersediaannya cukup jauh, bisa dikonsultasikan kemungkinan penggunaan material lain. Itu harus ada analisis teknis dan pengujian, bukan sekadar mengganti,” tegasnya.
Ketergantungan terhadap pasokan semen dari luar daerah menjadi persoalan struktural dalam pembangunan di Mimika. Yoga berharap persoalan logistik material ini segera terurai agar seluruh rangkaian pekerjaan fisik dapat tuntas tepat waktu sesuai kontrak.







