DaerahPendidikanPenyuluhan Masyarakat

Cegah Tawuran dan Pengaruh Negatif Medsos, Orang Tua Diminta Perkuat Pendidikan Karakter

22
×

Cegah Tawuran dan Pengaruh Negatif Medsos, Orang Tua Diminta Perkuat Pendidikan Karakter

Sebarkan artikel ini
Kegiatan pembinaan karakter bangsa yang menekankan peran orang tua dan guru dalam membentuk karakter anak berlandaskan nilai-nilai Pancasila serta mencegah tawuran dan pengaruh negatif media sosial (Foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

TIMIKA, Sidiknews.id – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mimika mendorong peran aktif orang tua dan guru dalam membentuk karakter anak yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Hal tersebut disampaikan Kasubid Pembinaan Karakter Bangsa pada Kesbangpol Kabupaten Mimika, Lodik Kaize, saat diwawancarai awak media di Hotel Grand Tembaga, Rabu (2/9/2026).

Lodik mengatakan, kegiatan pembinaan karakter tersebut menyasar orang tua, guru pendamping, serta siswa dari jenjang SMP dan SMA. Kegiatan ini bertujuan membentuk karakter generasi muda agar memiliki nilai-nilai kebangsaan yang kuat.

“Sasarannya untuk pembentukan karakter anak. Diharapkan bisa terbentuk karakter yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Menurutnya, peran orang tua sangat penting karena pendidikan karakter pertama kali dimulai dari lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga mampu menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak di rumah.

“Orang tua lebih ditekankan kepada perannya di rumah, terutama bisa memberikan contoh teladan yang baik sehingga nilai-nilai atau karakter anak ini bisa tumbuh dan berlandaskan Pancasila,” jelasnya.

Ia menilai, kesibukan orang tua tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan proses pembinaan anak. Orang tua tetap perlu menyediakan waktu untuk mendampingi, membimbing dan memberikan contoh perilaku yang baik.

“Anak-anak itu lebih melihat kepada teladannya daripada kata-kata atau motivasi yang kita berikan. Kalau orang tua tidak memberikan teladan yang baik, bagaimana anak bisa mengikuti,” katanya.

Lodik menjelaskan, pembinaan tersebut juga melibatkan guru pendamping dari sekolah agar pendidikan karakter yang diberikan di rumah dapat diperkuat melalui lingkungan pendidikan.

Dengan adanya sinergi antara orang tua dan sekolah, kata dia, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan jiwa nasionalisme serta mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita punya generasi penerus di Kabupaten Mimika yang bisa terbentuk ideologinya dengan mantap, yaitu Pancasila, dan karakternya adalah karakter Pancasila,” tuturnya.

Ia menambahkan, materi dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), sehingga peserta mendapatkan pemahaman langsung mengenai pembinaan ideologi dan karakter kebangsaan.

Sementara itu, Guru SMP Negeri 11 Mimika, Lusiana Nada, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembinaan karakter dan nilai-nilai kewarganegaraan bagi anak-anak di Mimika perlu terus diperkuat.

“Kami dari pihak sekolah bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena saat ini karakter kewarganegaraan anak-anak Timika agak minim,” ujarnya.

Lusiana menilai, perkembangan media sosial turut memberikan pengaruh terhadap perilaku anak. Menurutnya, berbagai konten di media sosial dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak apabila tidak mendapatkan pendampingan yang baik dari orang tua.

Ia mengatakan, fenomena tawuran maupun perilaku negatif lainnya menjadi salah satu contoh pentingnya pengawasan dan pendidikan karakter sejak dari lingkungan keluarga.

“Pendidikan mula-mula itu berasal dari dalam rumah. Terutama pendidikan karakter,” katanya.

Menurut Lusiana, pendidikan agama dan nilai moral juga perlu diperkuat sejak anak berada di lingkungan keluarga. Setelah itu, sekolah memiliki peran untuk melanjutkan dan memperkuat pendidikan karakter tersebut.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menyasar sekolah secara langsung, terutama pada saat penerimaan peserta didik baru maupun masa pengenalan lingkungan sekolah.

“Kalau boleh difokuskan ke sekolah, ada waktu-waktu tertentu ketika kegiatan penerimaan murid baru, termasuk MPLS. Di situlah mereka masuk untuk menanamkan karakter ini,” ujarnya.

Lusiana juga mengingatkan pentingnya kembali memperkuat pemahaman anak terhadap nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya mengenal Pancasila, tetapi juga harus mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap penguatan pendidikan karakter dapat membantu anak-anak menemukan jati dirinya secara positif, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai konten negatif di media sosial maupun lingkungan pergaulan.

“Anak-anak sekarang bisa memberontak untuk mencari jati diri, tetapi jangan sampai salah arah. Karena itu karakter dan pendampingan dari orang tua maupun sekolah sangat penting,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *