TIMIKA, Sidiknews.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) terus memperkuat investasi jangka panjang di tengah proses pemulihan operasi tambang. Salah satunya melalui pengembangan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar yang total investasinya diproyeksikan mencapai Rp72 triliun.
Selain itu, PTFI memastikan fasilitas smelter di Gresik siap kembali beroperasi. Jika digabungkan dengan fasilitas PT Smelting, kapasitas pemurnian konsentrat tembaga di Gresik mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. Selasa (18/8/2026).
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam amanat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tembagapura, Senin (17/8/2026). Kemarin
Ia mengatakan, investasi untuk pengembangan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar saat ini telah mencapai sekitar Rp25 triliun. Secara keseluruhan, investasi proyek tersebut diproyeksikan menembus Rp72 triliun.
“Investasi pengembangan tambang bawah tanah ini telah menghabiskan Rp25 triliun dan secara keseluruhan akan mencapai Rp72 triliun,” kata Tony.
Tambang Kucing Liar diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi utama PTFI di masa mendatang. Sepanjang masa operasinya, tambang tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounce emas.
Menurut Tony, besarnya investasi tersebut menunjukkan bahwa PTFI tetap melanjutkan pengembangan bisnis meskipun perusahaan masih berada dalam proses pemulihan operasi pascainsiden di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC).
“Di tengah masa pemulihan, PTFI tetap melangkah maju dan terus membangun fondasi bagi keberlanjutan perusahaan dan manfaatnya bagi bangsa,” ujarnya.
Pengembangan Tambang Kucing Liar diharapkan menjadi salah satu penopang produksi PTFI dalam jangka panjang, seiring dengan pemulihan kapasitas operasi perusahaan secara bertahap.
Smelter Gresik Siap Beroperasi
Di sisi lain, PTFI juga terus memperkuat hilirisasi mineral melalui fasilitas pemurnian di Gresik.
Tony menyampaikan, Smelter PTFI di Gresik telah siap kembali beroperasi. Fasilitas tersebut nantinya akan beroperasi bersama PT Smelting yang juga dimiliki PTFI.
Jika digabungkan, kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas pemurnian hingga sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
“Smelter PTFI di Gresik telah siap untuk kembali beroperasi. Bersama Smelter PT Smelting yang juga kita miliki akan memiliki kapasitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun,” kata Tony.
Menurutnya, kapasitas tersebut semakin memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu pusat pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia.
Keberadaan fasilitas pemurnian ini juga menjadi bagian dari komitmen PTFI untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus mendukung pertumbuhan industri nasional.
“Ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk mendukung pertumbuhan industri nasional,” ujarnya.
Dengan investasi Tambang Kucing Liar yang mencapai puluhan triliun rupiah serta penguatan fasilitas pemurnian di Gresik, PTFI menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan operasi, meningkatkan nilai tambah mineral, dan mempertahankan kontribusi perusahaan bagi Indonesia dalam jangka panjang.










