Ketahanan PanganPembangunanPerikanan

8 Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Mimika, Tiga Jadi Pusat Perikanan

23
×

8 Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Mimika, Tiga Jadi Pusat Perikanan

Sebarkan artikel ini
Peletakan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Mimika. Dari delapan lokasi, tiga ditetapkan sebagai pusat perikanan atau KNMP hub.(Foto: Istimewa/ Sidiknews.id).

TIMIKA, Sidiknews.com – Pemerintah mulai mengembangkan delapan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Program ini diharapkan dapat memperkuat aktivitas nelayan sekaligus membangun rantai ekonomi perikanan dari tempat pendaratan hingga penyimpanan dan pemasaran hasil tangkapan.

Program KNMP merupakan program strategis pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dari 19 lokasi yang sebelumnya diusulkan di Kabupaten Mimika, sebanyak delapan kampung dinyatakan memenuhi persyaratan dan ditetapkan sebagai lokasi pembangunan.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, Clemens Ohoilulin, mengatakan delapan kampung tersebut tersebar di sejumlah wilayah pesisir Mimika.

Delapan lokasi itu masing-masing Kampung Pomako di Distrik Mimika Timur, Kiyura di Distrik Mimika Barat, Atuka di Distrik Mimika Tengah, Amar dan Ipiri di Distrik Amar, Pronggo dan Mupuruka di Distrik Mimika Barat Tengah, serta Potowayburu di Distrik Mimika Barat Jauh.

Dari delapan lokasi tersebut, tiga kampung ditetapkan sebagai KNMP hub atau pusat, yakni Pomako, Ipiri dan Potowayburu. Sedangkan lima kampung lainnya menjadi kawasan penyangga.

Konsep ini membuat hasil tangkapan dari kampung penyangga nantinya dapat dikumpulkan di KNMP hub sebelum dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.

“Dari KNMP penyangga nanti hasilnya mereka akan menampung di KNMP hub,” kata Clemens.

Dilengkapi Cold Storage dan Pabrik Es

KNMP hub akan dilengkapi sejumlah fasilitas untuk mendukung aktivitas nelayan. Fasilitas tersebut antara lain tambatan perahu, tempat pendaratan ikan, gudang beku portabel berkapasitas 20 ton dan pabrik es portabel berkapasitas tiga ton.

Selain itu, akan dibangun sentra kuliner, kios perbekalan nelayan, fasilitas docking dan bengkel perahu, kantor pengelola, menara serta penampungan air, rumah genset, penerangan kawasan, akses jalan, gapura hingga instalasi pengolahan air limbah.

Sementara KNMP penyangga akan mendapatkan fasilitas dengan skala lebih kecil. Di antaranya tambatan perahu, tempat pendaratan ikan, gudang es portabel, kios perbekalan, sentra kuliner, rumah genset, sumur bor, penampungan air, penerangan dan akses jalan.

Pembangunan fisik KNMP dibiayai dan dilaksanakan pemerintah pusat melalui KKP. Pemerintah Kabupaten Mimika berperan dalam menyiapkan lahan untuk pembangunan.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah sebelumnya memastikan persoalan lahan untuk pembangunan KNMP di Mimika dan Nabire telah diselesaikan dan diserahkan kepada pemerintah pusat.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu nelayan mengatasi sejumlah kendala yang selama ini dihadapi, terutama keterbatasan tempat penyimpanan ikan, kebutuhan es, sarana pendaratan hingga pemasaran hasil tangkapan.

Dengan adanya gudang pendingin dan fasilitas pendukung, ikan hasil tangkapan nelayan diharapkan dapat bertahan lebih lama dan kualitasnya tetap terjaga sehingga memiliki nilai jual yang lebih baik.

Mimika Dapat 8 dari 14 KNMP di Papua Tengah

Secara keseluruhan, KKP menyetujui pembangunan 14 Kampung Nelayan Merah Putih di Papua Tengah pada 2026. Dari jumlah tersebut, delapan lokasi berada di Kabupaten Mimika dan enam lainnya berada di Kabupaten Nabire.

Program KNMP diarahkan untuk menjadikan kawasan pesisir sebagai pusat kegiatan perikanan yang lebih terintegrasi. Pemerintah berharap pembangunan tersebut tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan membuka aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.

Bagi Mimika yang memiliki wilayah pesisir luas dan potensi perikanan cukup besar, delapan KNMP ini diharapkan dapat menjadi penghubung antara hasil tangkapan nelayan dengan pasar yang lebih luas.

Dengan begitu, hasil laut dari kampung-kampung pesisir tidak hanya berhenti di tempat pendaratan, tetapi dapat masuk ke dalam rantai penyimpanan, pengolahan dan pemasaran sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat nelayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *