DaerahKesehatanPemerintahan Daerah

Kasus Malaria Meningkat, Dinkes Mimika Perkuat Pengendalian Vektor Menuju Eliminasi 2030

51
×

Kasus Malaria Meningkat, Dinkes Mimika Perkuat Pengendalian Vektor Menuju Eliminasi 2030

Sebarkan artikel ini
Dinkes Mimika Perkuat Pengendalian Vektor, Kasus Malaria Meningkat (foto: Ilustrasi/ Sidiknews.id).

TIMIKA, Sidiknews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika meningkatkan upaya pengendalian malaria menyusul masih tingginya kasus penyakit tersebut di wilayah Mimika. Perubahan cuaca yang terjadi dinilai turut menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan nyamuk penyebab malaria.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk, terutama pada sore hari.

Hal tersebut disampaikan Godfried saat diwawancarai awak media usai apel pagi di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (10/8/2026).

“Sekarang memang kasus malaria tinggi seiring dengan perubahan cuaca. Kita tahu sekarang mulai lagi musim panas, musim hujan, nanti sedikit lagi panas. Hujan, panas, hujan, panas ini punya potensi untuk berkembang biaknya jentik nyamuk malaria,” kata Godfried.

Ia mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar rumah pada sore hari apabila tidak diperlukan. Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan losion antinyamuk sebagai salah satu upaya perlindungan dari gigitan nyamuk.

“Nasaran saya kepada masyarakat, hindari gigitan nyamuk pada sore hari. Kalau boleh itu pakai autan kalau memang diperlukan, terus tidak usah juga keluar pada sore hari,” ujarnya.

Menurut Godfried, sore hari merupakan waktu ketika nyamuk mulai keluar dari tempat persembunyiannya sehingga risiko terkena gigitan meningkat.

Perkuat Pengendalian Vektor

Selain mengimbau masyarakat, Dinkes Mimika saat ini juga memperkuat upaya pengendalian vektor malaria. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah mitra, termasuk Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) serta beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Godfried mengatakan pengendalian vektor menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka kasus malaria di Mimika.

“Kita sekarang lagi berusaha bagaimana itu untuk mengendalikan vektor. Selain kita mengejar testing 2 juta sampel, kita juga sekarang dengan ada YPMAK, ada beberapa LSM yang bekerja untuk bagaimana mengendalikan vektor malaria,” jelasnya.

Ia menegaskan pengendalian vektor tidak boleh diabaikan. Sebab, apabila populasi nyamuk sebagai penular malaria tidak dikendalikan, peningkatan kasus malaria akan terus terjadi.

“Kalau vektor kita tidak kendalikan maka percaya atau tidak, peningkatan penyakit malaria pasti akan terus meningkat,” tegasnya.

Kepatuhan Minum Obat Tetap Penting

Godfried juga mengingatkan masyarakat yang sudah terdiagnosis malaria agar mengikuti aturan pengobatan yang diberikan tenaga medis.

Menurutnya, kepatuhan mengonsumsi obat merupakan tahapan penting setelah seseorang dinyatakan menderita malaria. Ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan dapat menyebabkan masalah resistensi terhadap obat.

“Kepatuhan minum obat itu sebenarnya bagian dari akhir. Kenapa dia harus patuh minum obat? Karena memang dia sudah sakit dan harus diobati,” katanya.

Ia menjelaskan obat malaria diberikan berdasarkan kondisi pasien, termasuk berat badan serta aturan dosis dan waktu konsumsi yang telah ditentukan dokter.

“Ketika kita tidak patuh untuk minum obat akan menyebabkan kita resistensi terhadap obat. Obat yang diberikan oleh dokter itu sudah sesuai dengan berat tubuh dan aturan minum obat,” jelasnya.

Namun demikian, Godfried menekankan bahwa langkah utama dalam penanggulangan malaria bukan hanya pengobatan, melainkan juga pencegahan dan pengendalian vektor secara berkelanjutan.

Dinkes Mimika pun terus mendorong berbagai upaya pengendalian malaria sebagai bagian dari dukungan terhadap target eliminasi malaria secara nasional pada 2030.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *